Siswa SMA Indonesia mengikuti asesmen berbasis komputer di ruang ujian dengan pengawasan guru.

Apakah Asesmen Nasional yang Baru Akan Lebih Adil atau Lebih Ribet untuk Siswa SMA?

Ya, Asesmen Nasional (AN) yang baru berdasarkan Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026 secara struktur regulasi dirancang lebih adil, bukan lebih ribet, bagi siswa SMA di seluruh wilayah Indonesia. Aturan ini memperkenalkan 8 dimensi profil lulusan yang lebih menyeluruh, mengintegrasikan pengukuran literasi-numerasi langsung ke capaian mata pelajaran lewat Pasal 9A, dan tetap mempertahankan posisi AN sebagai audit mutu satuan pendidikan — bukan penentu kelulusan siswa secara individu. Kesan “ribet” yang muncul di sebagian orang tua umumnya berasal dari proses adaptasi terhadap istilah dan mekanisme baru, bukan dari beban ujian yang benar-benar bertambah.

Sejak Kemendikdasmen menerbitkan aturan evaluasi pendidikan terbaru, banyak orang tua siswa SMA di berbagai wilayah Indonesia mulai bertanya-tanya. Apakah anak mereka akan menghadapi sistem penilaian yang lebih rumit dari sebelumnya, atau justru sebaliknya dirancang untuk memberi hasil yang lebih objektif dan merata? Pertanyaan ini wajar muncul, sebab setiap perubahan regulasi pendidikan selalu membawa kekhawatiran sekaligus harapan. Artikel ini membedah Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026 secara menyeluruh, membandingkan struktur AN lama dan baru, lalu menunjukkan gambaran implementasinya di sekolah. Bagi sekolah yang ingin memastikan gurunya siap menghadapi perubahan ini, tersedia pelatihan in-house evaluasi pendidikan dari Excellent Teach yang dirancang sesuai kebutuhan satuan pendidikan.

Apa Itu Asesmen Nasional yang Baru?

Asesmen Nasional yang baru adalah evaluasi mutu pendidikan yang diatur dalam Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026. Regulasi ini resmi mencabut Permendikbudristek No. 17 Tahun 2021, dengan pembaruan utama pada profil lulusan dan cara pengukuran literasi-numerasi.

Ada tiga instrumen inti yang tetap dipertahankan dari regulasi lama, namun dengan penajaman parameter. Orang tua siswa SMA perlu memahami keempatnya sebelum menilai apakah sistem ini lebih adil atau lebih ribet:

  • Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Instrumen ini mengukur literasi membaca dan numerasi siswa. Berdasarkan Pasal 9, AKM tetap menjadi standar kognitif utama dalam AN 2026.
  • Survei Karakter berbasis 8 dimensi profil lulusan. Bagian ini mengukur aspek nonkognitif siswa, menggantikan 6 Profil Pelajar Pancasila pada aturan sebelumnya dengan cakupan yang lebih luas.
  • Survei Lingkungan Belajar. Instrumen ini memotret iklim keamanan, inklusivitas, dan kebinekaan di sekolah. Sesuai Pasal 10, guru dan kepala sekolah turut wajib mengikuti survei ini.
  • Integrasi literasi-numerasi lewat Pasal 9A. Pasal sisipan ini memungkinkan literasi dan numerasi diukur langsung lewat capaian mata pelajaran tertentu, bukan lagi sebagai tes terpisah yang berdiri sendiri seperti sebelumnya.

Karena strukturnya tetap berbasis tiga instrumen lama dengan penajaman parameter, wajar bila muncul pertanyaan lanjutan. Mengapa sebagian orang tua siswa SMA di berbagai wilayah Indonesia justru merasa perubahan ini terasa lebih ribet?

Mengapa Banyak Orang Tua Khawatir AN Baru Lebih Ribet?

Sebelum menilai apakah kekhawatiran ini beralasan, penting memahami akar persepsinya terlebih dahulu. Berikut faktor yang membuat AN baru terasa rumit bagi sebagian orang tua siswa SMA di berbagai wilayah Indonesia:

  • Istilah dan pasal baru yang belum familiar. Sebutan seperti “8 dimensi profil lulusan” atau “Pasal 9A” terasa asing bagi orang tua yang baru mengenal Kurikulum Merdeka. Akibatnya, muncul kesan bahwa sistemnya berubah total dan lebih kompleks dari sebelumnya.
  • Integrasi literasi-numerasi ke mata pelajaran. Guru mata pelajaran seperti Sains atau Ekonomi kini perlu menyusun soal yang memuat unsur nalar literasi dan numerasi. Bagi orang tua, ini terlihat seolah anak menghadapi lebih banyak jenis ujian dalam waktu bersamaan.
  • Kesiapan sistem aplikasi asesmen pusat yang belum merata. Sekolah di wilayah dengan akses internet terbatas perlu memantau sistem asesmen berbasis komputer ini lebih intensif, sehingga terasa menambah beban administratif bagi pihak sekolah.
  • Jadwal pelaksanaan yang bersifat dinamis. Waktu pelaksanaan AN 2026 ditetapkan secara berkala oleh Mendikdasmen, bukan tanggal tetap seperti sebelumnya. Ketidakpastian jadwal ini kerap memicu kekhawatiran orang tua soal persiapan anak.
  • Dampak berbeda antarwilayah. Sekolah di kota besar relatif lebih cepat beradaptasi dengan sistem digital baru. Sementara itu, sekolah di daerah terpencil membutuhkan waktu lebih lama untuk melatih guru dan menyiapkan infrastruktur asesmen berbasis komputer.

Sebagian besar kekhawatiran ini sebenarnya berasal dari proses adaptasi terhadap istilah dan mekanisme baru, bukan dari beban ujian yang benar-benar bertambah. Oleh karena itu, penting melihat lebih jauh apakah struktur AN baru justru dirancang untuk lebih adil bagi siswa SMA.

Apakah Asesmen Nasional yang Baru Lebih Adil untuk Siswa SMA?

Jawabannya, secara struktur regulasi, ya. AN yang baru dirancang lebih adil melalui beberapa mekanisme berikut. Ini bukan sekadar klaim normatif, melainkan konsekuensi langsung dari perubahan pasal-pasal teknisnya:

  • AN tetap berposisi sebagai audit mutu sistem, bukan penentu kelulusan. Sesuai Pasal 2, tujuan AN adalah mengukur hasil belajar kognitif, nonkognitif, dan kualitas lingkungan belajar pada level satuan pendidikan — bukan menilai kelulusan siswa secara individu.
  • 8 dimensi profil lulusan memberi potret karakter yang lebih lengkap. Dibanding 6 Profil Pelajar Pancasila sebelumnya, penambahan dimensi Kesehatan dan Komunikasi membuat penilaian nonkognitif tidak timpang pada satu aspek saja.
  • Integrasi literasi-numerasi lewat Pasal 9A justru mengurangi beban ujian terpisah. Karena literasi dan numerasi diukur lewat capaian mata pelajaran, siswa tidak perlu menghadapi tes AKM sebagai beban tambahan yang benar-benar berdiri sendiri di luar pembelajaran kelas.
  • Survei Lingkungan Belajar menyeimbangkan penilaian antarwilayah. Sekolah dengan keterbatasan fasilitas tidak semata dinilai dari skor kognitif siswa. Kualitas proses dan iklim belajar ikut menjadi variabel penilaian, sehingga potret mutu pendidikan lebih proporsional.
  • Pendataan siswa kelas akhir berlaku merata di semua jenjang. Sesuai Pasal 10, siswa kelas akhir pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK sederajat sama-sama didata untuk keikutsertaan, sehingga tidak ada jenjang yang diperlakukan berbeda.

Perbandingan paling jelas antara sistem lama dan baru terlihat pada cara literasi-numerasi diukur serta jumlah dimensi profil lulusan yang dipantau. Tabel berikut merangkumnya secara berdampingan agar lebih mudah dipahami.

Perbandingan Asesmen Nasional Lama vs Asesmen Nasional Baru

Agar lebih mudah dipahami, berikut perbandingan aspek utama antara regulasi AN lama (Permendikbudristek No. 17/2021) dan AN baru (Permendikdasmen No. 9/2026). Geser tabel ke samping bila dibuka lewat ponsel.

Aspek Evaluasi AN Lama (2021) AN Baru (2026) Dampak bagi Siswa SMA
Profil lulusan 6 Profil Pelajar Pancasila 8 Dimensi Profil Lulusan (Pasal 3) Potret karakter siswa lebih lengkap, termasuk Kesehatan dan Komunikasi
Cara ukur literasi

-numerasi

Tes AKM berdiri sendiri, terpisah dari mapel Terintegrasi ke capaian mata pelajaran (Pasal 9A) Mengurangi kesan ujian terpisah yang menumpuk
Instrumen inti AKM, Survei Karakter, Survei Lingkungan Belajar Tiga instrumen sama, parameter diperbarui Struktur besar tetap familiar, adaptasi lebih ringan
Fungsi hasil AN Bukan penentu kelulusan individu Tetap bukan penentu kelulusan individu (Pasal 2) Tidak ada tekanan “lulus atau gagal” bagi siswa
Peserta yang

didata

Siswa kelas akhir jenjang tertentu Siswa kelas akhir SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK (Pasal 10) Perlakuan merata di seluruh jenjang, termasuk SMA
← Geser tabel untuk melihat selengkapnya

Manfaat Asesmen Nasional yang Baru bagi Siswa SMA

Perubahan struktur ini bukan sekadar formalitas regulasi. Berikut manfaat konkret yang bisa dirasakan siswa SMA di seluruh wilayah Indonesia:

  1. Tekanan psikologis yang lebih rendah. Karena AN bukan penentu kelulusan individu, siswa tidak perlu menghadapi evaluasi ini dengan kecemasan berlebih seperti pada era Ujian Nasional lama.
  2. Penilaian karakter yang lebih menyeluruh. Penambahan dimensi Kesehatan dan Komunikasi dalam 8 dimensi profil lulusan membuat potensi non-akademik siswa lebih terpetakan, tidak hanya berfokus pada nalar kritis dan kreativitas.
  3. Integrasi literasi-numerasi mendorong pembelajaran kontekstual. Sesuai Pasal 9A, guru mata pelajaran kini merancang soal berbasis penalaran yang menyatukan materi akademik dengan kemampuan literasi-numerasi. Siswa pun terbiasa berpikir kritis, bukan sekadar menghafal.
  4. Data mutu sekolah yang lebih akurat untuk perbaikan berkelanjutan. Survei Lingkungan Belajar memberi gambaran objektif tentang iklim sekolah. Data ini membantu sekolah memperbaiki fasilitas dan proses belajar, yang pada akhirnya menguntungkan siswa secara langsung.
  5. Keadilan antarwilayah yang lebih terjaga. Sekolah di daerah terpencil tidak dinilai semata dari skor kognitif. Kualitas proses dan lingkungan belajar ikut diperhitungkan, sehingga potret mutu pendidikan menjadi lebih adil dibanding sistem lama.

Bagi orang tua siswa SMA, manfaat yang paling terasa biasanya bukan pada perubahan skor semata. Sebaliknya, manfaat itu terlihat dari berkurangnya kecemasan anak menjelang masa evaluasi — indikator sederhana namun sangat nyata dalam keseharian keluarga.

Apakah Asesmen Nasional yang Baru Justru Lebih Ribet untuk Siswa SMA?

Pertanyaan ini wajar muncul, terutama di masa transisi awal penerapan regulasi. Namun, berdasarkan struktur Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026, kekhawatiran ini bisa dijelaskan sebagai berikut:

  • Jumlah instrumen inti tidak bertambah. AKM, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar tetap menjadi tiga instrumen utama seperti aturan lama. Tidak ada instrumen keempat yang ditambahkan dalam Pasal 9.
  • Integrasi Pasal 9A justru mengurangi tes berdiri sendiri. Karena literasi-numerasi disatukan ke mata pelajaran, siswa tidak menghadapi tes tambahan yang benar-benar terpisah dari jadwal belajar reguler.
  • Sifat AN tetap sebagai audit mutu, bukan ujian kelulusan. Tidak ada risiko “tinggal kelas” atau “tidak lulus” akibat hasil AN, sehingga tekanan yang dirasakan siswa secara struktural lebih ringan dibanding ujian kelulusan konvensional.

Risiko yang lebih nyata sebenarnya bukan pada bertambahnya beban ujian. Justru, risiko terbesar ada pada kesiapan guru memahami Pasal 9A dan kesiapan sekolah memantau sistem aplikasi asesmen pusat secara konsisten. Bagian inilah yang paling menentukan apakah AN baru terasa adil atau justru membingungkan di lapangan.

 

Siap Pahami Apakah Asesmen Nasional Baru Lebih Adil?

Memahami Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026 secara utuh membantu orang tua mendampingi anak menghadapi AN baru dengan lebih tenang. Alih-alih fokus pada istilah teknis yang terdengar rumit, ada baiknya orang tua memahami esensi perubahannya: AN tetap menjadi alat audit mutu pendidikan, bukan penentu masa depan akademik siswa secara sepihak.

Sekolah yang ingin memastikan guru-gurunya siap menerapkan integrasi literasi-numerasi sesuai Pasal 9A dapat memulai dengan pendampingan teknis yang tepat. Excellent Teach telah berpengalaman mendampingi berbagai satuan pendidikan di seluruh Indonesia dalam penguatan literasi, numerasi, dan kesiapan asesmen mutu, sehingga transisi menuju AN baru dapat berjalan lebih lancar bagi guru maupun siswa SMA.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apakah Asesmen Nasional yang baru lebih adil atau lebih ribet untuk siswa SMA?+
Secara struktur regulasi, AN baru dirancang lebih adil. Sebab, AN tetap bukan penentu kelulusan individu, memiliki 8 dimensi profil lulusan yang lebih lengkap, dan mengintegrasikan literasi-numerasi ke mata pelajaran agar tidak menambah beban ujian terpisah.
Apa dasar hukum Asesmen Nasional yang baru?+
Dasar hukumnya adalah Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026 yang diterbitkan Kemendikdasmen. Regulasi ini resmi mencabut dan menggantikan Permendikbudristek No. 17 Tahun 2021.
Apa itu 8 dimensi profil lulusan dalam AN baru?+
8 dimensi profil lulusan meliputi Iman & Taqwa terhadap Tuhan YME, Kewargaan, Penalaran Kritis, Kreativitas, Kolaborasi, Kemandirian, Kesehatan, dan Komunikasi. Dimensi ini diukur lewat Survei Karakter sesuai Pasal 3.
Apakah Asesmen Nasional yang baru menentukan kelulusan siswa SMA?+
Tidak. Sesuai Pasal 2, AN berfungsi sebagai audit mutu sistem pendidikan di tingkat satuan pendidikan, bukan sebagai penentu kelulusan siswa secara individu.
Apa maksud integrasi literasi-numerasi lewat Pasal 9A?+
Pasal 9A memungkinkan pengukuran literasi membaca dan numerasi diintegrasikan langsung ke dalam capaian akademik mata pelajaran tertentu, alih-alih diuji terpisah lewat tes AKM yang berdiri sendiri.
Apakah siswa SMA di daerah terpencil mengikuti AN yang sama dengan siswa di kota besar?+
Ya. Kerangka regulasinya sama di seluruh wilayah sesuai Pasal 10, meski kecepatan adaptasi sistem aplikasi dan infrastruktur bisa berbeda tergantung kesiapan masing-masing sekolah dan daerah.
Ke mana sekolah bisa mendapatkan pendampingan menghadapi AN baru?+
Sekolah bisa bekerja sama dengan lembaga pelatihan pendidik berpengalaman seperti Excellent Teach, yang menyediakan program pendampingan penguatan literasi, numerasi, dan implementasi Permendikdasmen No. 9/2026 dengan pendekatan praktis.

Ajakan Bertindak

Siap Pahami Asesmen Nasional Baru untuk Sekolah Anda?

Ajak sekolah anak Anda memahami Permendikdasmen No. 9 Tahun 2026 lebih dalam lewat sumber resmi Kemendikdasmen atau diskusi bersama pihak sekolah. Jika sekolah Anda ingin memastikan guru siap menerapkan integrasi literasi-numerasi dan penilaian karakter secara konsisten, hubungi kami untuk konsultasi gratis 15 menit bersama tim Excellent Teach.

Chat/WhatsApp Konsultasi Gratis

 

Whatsapp Instagram LinkedIn Tiktok

Leave a Comment